Jumat, 20 Mei 2011

Hiv, psk dan FACEBOOK

Artikel:
PSK , HIV dan Facebook



Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka Edisi ke 5 Tahun 2008, sebutan untuk pelacur adalah:psk, yaitu profesi yang menjual jasa untuk memuaskan kebutuhan seksual pelanggan. Biasanya penjualan jasa pelayanan ini dalam bentuk hubungan seksual atau oral seks demi uang. Di dalam Wikipedia Bahasa Indonesia disebutkan bahwa, di kalangan masyarakat Indonesia, pelacuran dipandang negatif, dan mereka yang menyewakan atau menjual tubuhnya sering dianggap sebagai sampah masyarakat. Ada pula pihak yang menganggap pelacuran sebagai sesuatu yang buruk, malah jahat, namun dibutuhkan (evil necessity). Pandangan ini didasarkan pada anggapan bahwa kehadiran pelacuran bisa menyalurkan nafsu seksual pihak yang membutuhkannya (biasanya kaum laki-laki). Salah seorang yang mengemukakan pandangan seperti itu adalah Augustinus dari Hippo (354-430), seorang Bapak Gereja. Ia mengatakan bahwa pelacuran itu ibarat "selokan yang menyalurkan air yang busuk dari kota demi menjaga kesehatan warga kotanya". Pandangan yang negatif dan stigma selalu hanya terhadap lonte, sedangkan para pelanggannya umumnya tidak dikenai stigma demikian.

Perubahan Nama

Profesi lonte yang memang usianya mungkin hampir sama dengan usia dunia ini, secara bisnis hampir tidak mungkin dihilangkan. Bebagai upaya dilakukan untuk memperhalus dengan merubah-ubah nama subjeknya. Beberapa istilah yang kita kenal, mulai dari pelacur, kupu-kupu malam, wanita tuna susila (WTS), sundel, pekerja seks komersil (PSK), wanita pekerja seks (WPS), perempuan eksperimen (Perek), ‘pecun’, ‘jablay’, ‘barges’, ‘luna’, ‘moler’, dan mungkin banyak lagi nama lain tergantung pada daerah dan kelompok dimana subjeknya berada. Kebiasaan bangsa kita yang gemar merubah-rubah nama sesuatu tanpa merubah fungsinya, mengakibatkan kaburnya profesi yang satu ini. Sementara dari segi penanggulangannya, apapun julukan yang diberikan, toh tidak ada terobosan dalam penanggulangannya sama sekali, karena program penanggulangannya tidak menyentuh akar permasalahan yang terjadi. Itulah sebabnya dalam tulisan ini, penulis menggunakan kata lonte tersebut, agar lebih singkat dan tidak terkesan mengaburkan subjeknya. Apalagi praktek prostitusi itu sendiri secara vulgar sudah diketahui oleh publik melalui berbagai media, sehingga kita perlu merasa kurang santun menggunakan kata lonte tersebut.


Jaringan Facebook

Jaringan prostitusi lewat Facebook yang terungkap di Surabaya baru-baru ini menunjukkan bahwa bisnis seksual ini memang sangat “dibutuhkan” di Indonesia. Keistimewaan prostitusi di Indonesia adalah, lontenya ada dimana-mana; di diskotik, di panti pijat, di hotel, di cafĂ©, di salon, di sekolah, di kampus, di mal, di kantor-kantor, dan dimana saja termasuk di situs internet dan facebook. Lokalisasi prostitusi hanya sedikit, tapi praktek prostitusinya tersebar dan terselubung di mana saja.

Jaringan internet yang semakin luas dan mudah di akses, sebagai suatu perkembangan teknologi komunikasi bukanlah sebagai penyebab yang harus dipersalahkan, tapi tidak lebih sebagai perangkat teknologi yang mempermudah komunikasi antar individu yang tidak dibatasi oleh jarak dan waktu.

HIV dan Internet

Promosi bisnis seks lewat internet sudah sejak lama dikenal dan diketahui secara luas oleh para pengguna internet yang senang berselancar di dunia maya, dengan berbagai cara pengenalan melalui situs-situs yang ada, baik lokal maupun internasional. Bahkan dengan lokasi, tarif dan sistim pemesanan yang dapat diakses dengan mudah bagi para pelanggan. Keberadaan internet saat ini, tidak perlu lagi dipermasalahkan, karena akar permasalahan prostitusi bukan pada media internet tersebut. Beberapa surat kabar malah secara jelas mengiklankan wanita-wanita yang bisa ‘dipesan’ layaknya mengiklankan mobil atau menyewakan apartemen, lengkap dengan harga dan nomor kontak, baik secara langsung maupun sebagai perantara. Bukankah saat ini sistim komunikasi sudah demikian mudahnya dibanding 10 tahun yang lalu, yang dari sudut bisnis sangat mempermudah transaksi?.

Kalau kita saksikan melalui siaran TV One dengan wawancara eksklusif dengan seorang lonte bernama ‘Endah’ yang katanya siswa SMU, dengan entengnya mengutarakan bagaimana proses transaksi dengan pelanggan yang berminat sampai didapat kesepakatan harga dan tempat untuk pelaksanaan kegiatan bisnis tersebut. Dijelaskan juga oleh sang lonte tentang pembagian persentase keuntungan yang diperoleh dengan pihak perantara, setelah pelaksanaan pekerjaan selesai 100%. Juga tanpa beban sang lonte menceritakan bahwa ia sudah menekuni pekerjaannya tersebut jauh sebelum teknologi facebook ditemukan. Justru para lonte tersebut mampu menangkap dan menggunakan peluang baru teknologi facebook yang lagi tren saat ini dalam upaya melancarkan dan memudahkan sistim pemasaran/penyewaan ‘barang’ kepada segmen pasar tertentu. Ini berarti telah bertambah satu media lagi dalam percepatan penyebaran virus HIV di dunia ini melalui dunia maya. Hal ini bukanlah hal yang mengejutkan, karena virus HIV menular langsung dari satu pengidap ke orang sehat. Berbagai media seperti telepon, tidak berbeda dengan internet dan biasa digunakan untuk kelancaran bisnis, termasuk bisnis seks yang menjadi sumber penyebaran HIV.

Dari segi kesehatan, lapangan kerja prostitusi ini sangat rentan terhadap penularan penyakit infeksi yang dikenal dengan kelompok Penyakit Menular Seksual (PMS) atau Sexual Transmitted Diseases (STD) atau Veneral Diseases, seperti sifilis, gonore, herpes genitalis, lymphogranuloma venerum, dan lain-lain. Dan penyakit infeksi sistemik menular lain yang route penularannya salah satunya melalui hubungan seksual, baik itu hetero seksual maupun homoseksual, adalah hepatitis B, hepatitis C, dan yang paling berkembang saat ini infeksi HIV yang dapat menyebabkan AIDS. Penularan segala jenis penyakit ini bisa terjadi dua arah, yaitu dari lonte kepada pelanggannya dan dari pelanggan kepada lonte yang dipesan dan dipakainya.

Jangan Salahkan Teknologi

Teknologi komunikasi melalui komputer/laptop dan jaringan internet dengan surat elektronik (email) dan facebook, saat ini bukanlah tergolong mahal dan canggih, tapi sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat luas dan bagi kawula muda menjadi sarana memperluas pergaulan, hanya dengan menekan tombol-tombol keyboard dan menggeser mouse. Disamping itu, laptop saat ini laksana buku catatan harian yang sangat mudah dibawa kemana-mana, sekaligus bisa mengakses berbagai Website di seluruh dunia sebagai sumber informasi, dan menyebarkan informasi, dari yang sangat baik sampai yang sangat buruk sekalipun. Dan bisa digunakan orang yang paling baik sampai yang paling jahat. Jadi, permasalahannya bukan pada alat dan teknologinya, tapi tetap pada manusianya. Manusianya yang menyebarkankan virus HIV, sementara jaringan internet hanya ikut berperan meng-akselerasi penularannya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar